Taruhan Judi Aman – Keapikan permaianan Leicester dimotori oleh 2 orang bernama jamie Vardy dan Riyad Mahrez. Tapi siapa yang mendatangkan mereka?
Leicester menampilkan permainan yang benar-benar apik pada musim ini di mana mereka sekarang ini bahkan berahsil memiliki posisi tertinggi di papan klasemen di mana mereka memiliki keunggulan lima poin dari Tottenham Hotspur yang berada pada peringkat kedua dan sekarang ini liga masih memiliki sisa sembilan pekan untuk dijalankan lagi.
Kinerja oke Leicester tersebut sudah barang tentu tidak lah lepas dari peran para pemainnya dimulai dari penjaga gawang sampai dengan lini depan mereka. DIketahui bahwa kekuatan utama dari pada Leicester sangat bergantung kepada peran besar dari pada Vardy, Mahrez serta N’Golo Kante. Mereka menjadi tumpuan bagi tim nya baik itu ketika sedang berbicara tentang bertahan atau pun menyerang.
Sekarang ini ketiga nya menjadi nama yang begitu diincar oleh para klub besar di Eropa walau pun di beberapa musim yang silam hampir tidak ada yang tahu siapa itu mereka. Kbeeradaan dari para pemain tersebut tidak lepas dari pada orang di dalam kubu mereka yang merupakan tim pencari bakat yang berada di bawah kepemimpinan dari pada Steve Walsh yang sekarang ini juga merupakan asisten manajer dari pada klub tersebut.
“Tentu saja adalah hal yang sangat penting untuk bisa mempertahankan nama-nama itu.” terang Ranieri memaparkan seperti yang berhasil dituliskan oleh Bandar Taruahan Judi Aman.
“Ketika saya pertama kali datang ke sini saya meminta agar mereka memiliki jangka kontrak yang sama dengan diriku karena pada dasarnya saya memiliki hubungan yang sangat baik dengan seluruh staff di sini. Yang aku inginkan di sini tidak sulit kok. Yang penting hubungan di dalam tim bisa terjalin dengan baik, maka itu akan memberikan dampak positif di dalam permainan tim itu sendiri.” tegasnya menyambungkan lebih lanjut.
“Saya sendiri pada dasarnya mengharapkan agar mereka bisa segera diberikan kontrak baru oleh pihak klub maka dengan begitu mereka bakalan bisa merasakan lebih senang lagi dna itu akan membuat mereka bisa berkembang dengan lebih cepat lagi.” tegasnya mengujarkan seperti yang berhasil dilaporkan langsung oleh Master Taruhan Judi Aman Online.
Steve Walsh sendiri pada dasarnya merupakan mantan pemain Leicester dimulai dari tahun 1986 sampai dengan tahun 2000 yang sialm. Dan semenjak itu ia telah bermain sebanyak 369 pertandingan bersama dengan klub nya dan menyumbangkan 53 gol untuk tim nya. Setelah memutuskan untuk pensiun dari klubnya tersebut, Walsh pun menguru beberapa usaha pribadinya dan ada dalam kesempatan di mana ia menjadi kolumnis untuk Leicester Mercury yang merupakan salah satu harian berita di sana.
“Sekedar informasi saja, sebenarnya saya sendiri sudah mengenal Steve dalam jangka waktu yang cukup lama. Pada saat saya masih menjadi pelatih Chelsea dulu saya sudah tahu siapa itu dia dan kami bekerja sama di sana dengan sangat baik. Kalau pun ada satu hal yang bisa saya ungkapkan mengenai dirinya adalah bahwa dia merupakan orang yang fantastis untuk klub ini da hal tersebut sama sekali tidak lah terhindarkan.” tegasnya.
“Kami bahkan sampai mencari ke seluruh belahan di Eropa dan juga dunia. DAn pada sat kami merasakan sesuatu maka dia pun langsung pergi untuk menyaksikan pertandingan ini dan sekarang ini dia sedang mencoba untuk memberitahu hasil dari pada pengamatan tersebut.” tegas Ranrieri memaparkan seperti yang berhasil dilaporkan oleh juranlis kami.
Pada dasarnya apa yang dialkukan oleh Leicester pada musim ini bisa dibilang sesuatu hal yang sangat fenomenal. Mungkin seperti gerhana matahari yang terjadi setelah sekian lama sekali. Dan ini merupakan fenomena juga dari kompetisi Liga Primer Inggris. Claudio Raneri yang merupakan pelatih dari pada tim tersebut bahkan mengungkapkan kalau ia ragu akan ada yang bisa mengulangi torehan yang pernah ia buat seperti sekarang ini.
Musim ini memang bisa dibiang sangat gila untuk Leicester dan Ranieri mengungkapkan kalau hal tersebut wajar apa bil disebut demikian sehubungan dengan di puncak klasemen sekarang ini, yang menduduki bukan lah tim yang ternama seperti Chelsea, Arsenal atau pun duo Manchester. Akan tetapi mereka adalah tim yang tadinya berasal dari papan menengah ke bawah yaitu Leicester.
Usai menjalani tiga peremat musim bersama dengan kubu Leicester yang berada di bawah kalsemen, sekarang ini malah tim dengan nama lain The Foxes tersebut berada pada peringkat paling atas pada papan klasemen dan mereka memiliki keunggulan sebesar lima poin dari klub Spurs yang sementara waktu ini merupakan penghuni papan kedua pada klasemen sementara. Sementara itu di peringkat ketiga terdapat nama Arsenal.
Sehubungan dengan liga masih memiliki sisa selama sembilan pekan lagi, bisa diungkapkan kalau Leicester merupakan kandidat paling kuat untuk menjadi juara pada musim ini. Terlebih lagi mereka jgua tidak pernah terlihat pecah fokus setelah mereka tersingkirkan pada komeptisi Piala FA seperti yang sudah pernah diwartakan sebelumnya oleh Agen Taruhan Judi Aman Internasional.
Apa bila memang benar kalau Leicester bisa menjadi juara pad akhir musim maka Ranieri tahu benar kalau tim-tim lain bakalan sangat susah untuk melakukan hal yang serupa. Alasan terbesar nya adalah karen fenomena seperti musim ini hampir tidak pernah terjadi pada liga-liga lainnya di Eropa sampai dengan sekarang ini.
“Saya melihat bahwa kami bisa merubah tradisi di Liga Primer pada musim ini. Mungkin semuanya akan berubah menjadi normal kembali pada musim yang akan datang nanti.” kata mantan pelatih Inter Milan ini mengungkapkan lebih lanjut di dalam pernyataannya bersama dengan kami.
“Saya bisa katakan bahwa di dalam sepak bola, mungkin di dalam 1 dekade sekali, hal seperti ini bisa saja terjadi dan kami merupakan hal aneh tersebut.” tegasnya menyambungkan lebih lanjut.
“Saya sendiri tidak mengetahui apakah hal seperti ini merupakan sensasi untuk semusim atau kami bisa melanjutkannya lagi atau tidak. Akan tetapi saya bisa mengungkapkan bahwa hal seperti apa pun akan bisa terjadi.” tegasnya mengakhiri perbincangan.
Di sisi yang lain Mauricio Pochettino sekarang ini tetap memilh untuk mempertahankan starter yang ia gunakan. Seperti yang sudah diberikan keterangan oleh kami, Spurs kalah telak dari Dortmund dan hal tersebut tidak lain adalah karena pilihan dari pada Spurs untuk menurunkan starter mereka di mana dia tidak emnurunkan beberapa nama pemain penting seperti Erik Lamela, harry Kane dan Mousa Dembelle yang sejauh ini merupakan langganan untuk mereka.
Pochettino pada issi lain mempertahankan opsi nya untuk tidak menurunkan striker yang mereka inginkan. Dia mengugnngkapkan bahwa secara garis besar tim memang menampilkan sepak bola yang jelek sehingga tim mana pun yang memulai pertandingan tidak bakalan memberikan dampak besar terhadap tim dan hal ini sama sekali tidak akan bisa menjauhi mereka dari kekalahan.
“Sama sekali saya tidak ingin melakukan komplain terhadap hal tersebut. Mungkin saja di ruang ganti anda bakalan berbicara dengan cara yang tidak sama, jelas Pochettino mengujarkan kepada kami.
“Namun demikian itu bukan berarti saya adalah orang yang skeptik. Di satu sisi saya ingin mengungkapakn bahwa saya adalah orang yang menerima seluruh pandangan yang diperlukan. Selalu anda bakalan mencoba untuk memilih tim yang lebih oke. Pada asat anda menjalankan hal buruk seperti ini maka itu berarti siapa saja bakalan sama seperti yang ada di lapangan dan secara kolektif sebagai seluruh tim saya bisa katakan kalau tim ini sekarang telah menampilkan sepak bola yang jelek dan hal tersebut sama sekali tidak bisa dipungkiri oleh siapa pun.” jelasnya menandaskan.
“Sekarang ini kami tidak memiliki opsi lain. Kekalahan kami pada kompetisi ini secara tidak langsung akan membuat kami kini lebihb erfokus untuk memainkan laga di Liga Primer Inggris di mana sekarang ini kami sedang berada dalam jalur untuk memperebutkan gelar dan kami akan mencoba sebaik mungkin untuk melakukan hal tersebut sebabnya kami ingin memberikan penampilan yang sebaik mungkin . Sekian dan terima kasih.” kata nya mengakhiri dipublikasikan oleh Bandar Judi Aman. (RB)